Beberapa tahun lalu, banyak orang melihat marketplace seperti Shopee sebagai tempat yang sangat membantu seller berkembang.
Modal kecil bisa mulai jualan.
UMKM bisa dapat pembeli dari seluruh Indonesia.
Bahkan banyak toko tumbuh besar hanya dari marketplace.
Tapi memasuki 2026, suasana mulai berubah.
Di komunitas seller, media sosial, sampai kolom komentar artikel marketplace, mulai sering muncul kalimat seperti:
“Marketplace sekarang makin berat”
“Potongan makin besar”
“Algoritma makin susah ditebak”
“Traffic makin turun”
Lalu muncul pertanyaan besar:
Apakah memang platform mulai terlalu berat ke seller?
Atau sebenarnya seller yang belum berhasil beradaptasi?
Marketplace 2026 Sudah Tidak Sama Seperti Dulu
Kalau kita jujur, sistem marketplace sekarang memang berubah sangat cepat.
Dulu marketplace lebih sederhana.
Upload produk.
Main keyword.
Kasih harga murah.
Lalu tunggu order masuk.
Sekarang tidak lagi sesederhana itu.
Sistem marketplace mulai berubah menjadi:
✔ AI recommendation
✔ behavior-driven algorithm
✔ live commerce ecosystem
✔ engagement platform
Artinya yang dilihat bukan lagi sekadar judul produk.
Tapi:
- CTR
- conversion
- review baru
- performa chat
- live streaming
- video produk
- engagement pembeli
- performa pengiriman
Ini juga mulai banyak dibahas dalam berbagai update seller dan pembahasan biaya marketplace sepanjang 2026.
Seller Sekarang Tidak Cukup Hanya Upload Produk
Ini perubahan paling terasa.
Dulu seller cukup jadi “penjual”.
Sekarang seller dituntut jadi:
- admin
- content creator
- customer service
- advertiser
- live streamer
- analis data
Kalau tidak mengikuti ritme sistem baru, toko bisa perlahan tenggelam.
Makanya banyak seller lama mulai merasa:
“jualan sekarang lebih capek”
Dan sebenarnya itu memang nyata.
Biaya Marketplace Juga Mulai Lebih Kompleks
Hal lain yang paling sering dikeluhkan seller adalah biaya.
Dulu seller hanya fokus ke:
✔ harga modal
✔ ongkir
✔ sedikit biaya admin
Sekarang mulai muncul banyak layer biaya:
- biaya administrasi
- biaya layanan
- biaya program promo
- biaya gratis ongkir
- biaya iklan
- biaya proses pesanan
- biaya affiliate
- biaya komisi tambahan
Bahkan beberapa seller mulai menghitung total potongan bisa menyentuh angka yang cukup besar tergantung kategori dan program yang diikuti.
Tapi Apakah Ini Berarti Platform Jahat?
Di titik ini kita juga perlu melihat secara lebih jernih.
Karena dari sisi platform, mereka juga sedang berubah.
Marketplace dulu banyak membakar uang demi pertumbuhan.
Sekarang mereka mulai bergerak ke arah:
✔ profitabilitas
✔ efisiensi sistem
✔ monetisasi traffic
Artinya sistem mulai lebih selektif.
Traffic organik gratis mulai berkurang.
Seller didorong untuk:
- ikut iklan
- ikut live
- ikut program promo
- aktif engagement
Kalau dianalogikan sederhana…
Dulu marketplace seperti pasar gratis yang ramai.
Sekarang lebih seperti mall modern.
Ramai memang.
Tapi ada banyak biaya operasional untuk bisa tampil menonjol.
Tapi Seller Juga Tidak Bisa Menyalahkan Sistem Sepenuhnya
Ini bagian yang cukup sensitif, tapi penting dibahas.
Karena kenyataannya…
Tidak semua toko yang turun performanya disebabkan platform.
Ada juga seller yang:
- tidak update strategi
- masih spam keyword
- foto produk tidak berkembang
- respon lambat
- tidak memahami data iklan
- tidak membangun branding
Sementara sistem marketplace sekarang berubah sangat cepat.
Jadi kadang masalahnya bukan:
“platform mempersulit seller”
Tapi seller masih memakai cara lama di sistem yang sudah berubah.
Era Marketplace Sekarang Adalah Era Adaptasi
Kalau disimpulkan sederhana…
2026 adalah era di mana seller yang bertahan bukan hanya yang murah.
Tapi yang:
✔ cepat belajar
✔ memahami algoritma
✔ memahami perilaku pembeli
✔ punya branding
✔ punya komunitas pelanggan
Karena marketplace sekarang lebih mirip:
📱 media sosial
📊 mesin iklan
🤖 AI recommendation system
Bukan sekadar tempat upload produk.
Kenapa Banyak Seller Mulai Bangun Sosial Media Sendiri
Ini juga mulai menjadi strategi banyak seller berpengalaman.
Mereka mulai sadar:
jangan hanya bergantung pada satu platform.
Akhirnya banyak yang mulai membangun:
- TikTok sendiri
- WhatsApp customer
- website pribadi
- komunitas pelanggan
Tujuannya bukan meninggalkan marketplace.
Tapi supaya bisnis tetap punya “nafas” kalau suatu hari algoritma berubah lagi.
Jadi Sebenarnya Siapa yang Salah?
Kalau ditanya jujur…
jawabannya mungkin:
👉 tidak sesederhana itu.
Marketplace memang berubah.
Biaya memang naik.
Algoritma memang makin ketat.
Tapi di sisi lain, seller juga dituntut berkembang lebih cepat dari sebelumnya.
Jadi masalahnya bukan sekadar:
❌ “platform jahat”
atau
❌ “seller salah”
Melainkan:
✔ ekosistem digital commerce memang sedang berubah besar.
Yang Paling Berbahaya Adalah Tidak Mau Beradaptasi
Karena satu hal yang pasti:
perubahan ini kemungkinan belum selesai.
AI recommendation semakin kuat.
Persaingan semakin padat.
Traffic organik semakin mahal.
Dan seller yang bertahan kemungkinan adalah seller yang mau terus belajar.
Baca Juga Lanjutan Artikel :
Diskusi Terbuka
Kalau menurut kamu sendiri…
Di era marketplace sekarang:
apakah sistem platform memang makin memberatkan seller?
Atau sebenarnya seller memang harus mulai beradaptasi lebih serius?
Coba share pendapat dan pengalaman kamu di kolom komentar.
Karena kemungkinan besar banyak seller lain juga sedang merasakan perubahan yang sama.
Komentar
Posting Komentar